Persaingan Operator Telekomunikasi Indonesia Ketat

Industri telekomunikasi nasional saat ini ditandai dengan mulai menguatnya tiga tren utama, yaitu evolusi platform jejaring sosial,mulai mewabahnya telepon seluler (ponsel) pintar, dan menguatnya posisi tawar konsumen. Derasnya ketiga arus tren tersebut diyakini memberikan warna dan bentuk tersendiri pada industri telekomunikasi di Tanah Air.


Analis emiten sektor telekomunikasi dari Ekokapital Securities Cece Ridwanullah mengatakan, pada 2010 lalu emiten sektor telekomunikasi banyak mengeluarkan dana untuk kebutuhan operasional, khususnya memperbaiki kualitas layanan.

”Memperbanyak layanan fitur pada layanan memang harus terus dilakukan perusahaan sektor telekomunikasi,” tuturnya di Jakarta. Dia memperkirakan, dana yang dikeluarkan untuk kepentingan itu sekitar 40 persen dari biaya operasional perusahaan yang dianggarkan.

Sementara perseroan baru bisa mendapatkan hasil dari penambahan fitur pada 4–5 tahun ke depan. Cece mengatakan, langkah tersebut harus dilakukan perusahaan operator telekomunikasi mengingat persaingan usaha sektor ini semakin ketat.

Jika tidak mau kehilangan pelanggan, operator telekomunikasi harus terus meningkatkan kinerjanya.Alasannya, saat ini konsumen semakin kritis terhadap perusahaan layanan telekomunikasi yang digunakan.

Tahun ini merupakan saat bagi operator telekomunikasi memantapkan diri pada layanan data. Pasalnya,jumlah pengguna layanan data ini ke depan akan semakin meningkat seiring dengan tingkat kebutuhan mobile lifestyle terhadap internet dan maraknya pengguna ponsel pintar.

Untuk layanan ini, operator telekomunikasi juga harus mulai menyasar pelanggan- pelanggan di daerah. Sementara itu, Chief Business Officer MarkPlus Inc Taufik mengungkapkan,keberadaan berbagai platform jejaring sosial beserta aplikasi penunjang semakin memperluas pilihan cara berkomunikasi bagi penggunanya.

Metode LPP - Latihan Pembesar

”Kini pengguna ponsel pintar dapat menelepon temannya melalui Skype atau aplikasi di Facebook. Bertukar pesan lewat BBM (Black- Berry Messenger) atau YM (Yahoo! Messenger),”tuturnya.

Gejala tersebut kemudian ditangkap sebagai peluang bagi para gadget manufactureatau produsen gadget untuk memperluas pasar mereka. Hal itu di antaranya dengan meluncurkan ponsel dengan fasilitas jejaring sosial yang telah tertanam di dalam perangkat yang dijual.

Konsumen dapat dengan mudah berpindah dari satu operator ke operator lain. Berpindah dari satu paket ke paket lain atau menggunakan lebih dari satu operator demi alasan efisiensi.

”Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat perpindahan pelanggan atau churn rate tertinggi dengan angka di atas 10 persen per bulan,” ungkapnya.

Semua itu bermuara pada pergeseran cara akses internet. Porsi pengguna mobile internet akan semakin tinggi dibandingkan non-mobile. Dalam kurun waktu kurang dari lima tahun diperkirakan hampir setengah dari pengguna internet akan mengakses dari perangkat bergerak. Karena itulah, Taufik memperkirakan bahwa di masa mendatang konsumen hanya memerlukan operator sebagai jembatan menggunakan internet.